in

5 Kejanggalan Penangkapan Pelaku Penyerang Novel Baswedan

Tekape.id РTim advokasi Novel Baswedan membeberkan adanya beberapa kejanggalan terkait penangkapan dua anggota Polri aktif, pelaku penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Adapun salah satu kejanggalan yang ditemukan adalah terkait sketsa wajah yang pernah dirilis polisi.

“Temuan polisi seolah-olah baru sama sekali. Misal apakah orang yang menyerahkan diri mirip dengan sketsa-sketsa wajah yang pernah beberapa kali dikeluarkan Polri. Polri harus menjelaskan keterkaitan antara sketsa wajah yang pernah dirilis dengan tersangka yang baru saja ditetapkan,” ujar tim advokasi Novel Baswedan, M Isnur melalui keterangan tertulis, Sabtu (28/12/2019).

Isnur meminta Polri segera menjelaskan keterkaitan sketsa yang dirilis dengan dua pelaku yang ditetapkan tersangka. Lalu, Isnur juga meminta kepolisian tidak menutupi pelaku utama yang sebenarnya.

Tak hanya itu, Isnur juga mengungkapkan ada kejanggalan lainnya dari penetapan dua pelaku ini. Isnur menduga bahwa kedua orang ini telah ‘pasang badan’ untuk menutupi pelaku utama.

“Kepolisian harus mengungkap motif pelaku tiba-tiba menyerahkan diri, apabila benar bukan ditangkap. Dan juga harus dipastikan bahwa yang bersangkutan bukanlah orang yang ‘pasang badan’ untuk menutupi pelaku yang perannya lebih besar,” katanya.

Adapun tiga kejanggalan itu adalah:

  1. Adanya SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) tertanggal 23 Desember 2019 yang menyatakan pelaku belum diketahui.
  2. Perbedaan berita yaitu kedua polisi tersebut menyerahkan diri atau ditangkap.
  3. Temuan polisi seolah-olah baru sama sekali (contoh sketsa wajah).

Selain tiga kejanggalan tersebut di atas, terdapat 2 kejanggalan lainnnya adalah.

  1. Ekspresi dan raut wajah tersangka penyerang Novel tidak menunjukkan penyesalan atau ketakutan saat diboyong oleh polisi dalam keadaan diborgol, sebagaimana tersangka pelaku kejahatan pada umumnya. Bahkan salah satu pelaku seolah menantang dan sempat berteriak “Novel penghianat!”. Ini menimbulkan dugaan seolah penangkapan ini by design dan teriakan pelaku itu hanya untuk menyamarkan alibi seolah ‘rekayasa’
  2. Yang lebih membuat janggal adalah, Kapolres Metro Depok, Ajun Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah mengaku tidak tahu-menahu ada penangkapan penyerang Novel tersebut. Padahal Mabes Polri menyebut pelaku dibekuk di wilayah Cimanggis, Depok, wilayah hukum Polres Depok. Kok bisa?

“Oleh karena itu, Polri harus membuktikan pengakuan yang bersangkutan bersesuaian dengan keterangan saksi-saksi kunci di lapangan,” jelasnya.

Isnur juga meminta polisi segera mengungkap aktor utama dalam pelaku teror Novel. Menurutnya, mustahil bila penyiraman Novel hanya dilakukan oleh dua orang.

“Kepolisian harus segera mengungkap jendral dan aktor intelektual lain yang terlibat dalam kasus penyiraman dan tidak berhenti pada pelaku lapangan. Hasil Tim Gabungan Bentukan Polri dalam temuannya menyatakan serangan kepada Novel berhubungan dengan pekerjaannya sebagai penyidik KPK. KPK menangani kasus-kasus besar, sesuai UU KPK, sehingga tidak mungkin pelaku hanya berhenti di 2 orang ini, oleh karena itu perlu penyidikan lebih lanjut hubungan 2 orang yang saat ini ditangkap dengan kasus yang ditangani Novel atau KPK,” pungkasnya.

Halaman 1 2

Rekomendasi

Written by Devina Putri