in

Harga Emas 28 September 2020: Tren Bullish Belum Berakhir!

image: vibiznews.com

Tekape.id – Sobat tekape yang ingin rekomendasi Harga Emas 28 September 2020 lihat disini ya!!!

Harga emas ditutup pada akhir minggu lalu dengan penurunan sebanyak 5%, diperdagangkan dibawah $1,900 per ons.

Harga emas terus mengalami penurunan selama minggu lalu, dan menyentuh kerendahan dua bulan.

Dolar AS adalah katalisator utama di balik penurunan dari harga emas pada minggu lalu. Minggu ini adalah kesempatan untuk membeli pada harga dibawah. Harga emas mendekati ke dasar dan ini adalah kesempatan bagi mereka yang pada gelombang pertama telah ketinggalan kereta.

Sentimen yang berlangsung selama minggu lalu adalah Rally dari dolar AS, yang disebabkan karena kekuatiran akan terganggunya pemulihan ekonomi global karena datangnya gelombang kedua virus corona yang melanda Eropa khususnya. Dolar AS naik menyentuh ketinggian selama dua bulan.

Kenaikan dolar AS dan terkikisnya postur grafik tehnikal jangka pendek dari harga emas menyebabkan harga emas turun sampai ke level terendah selama dua bulan di $1,857 dan bahkan tren naik harga emas secara jangka pendek menjadi terancam.

Namun harga emas berhasil naik kembali ke level semula di $1,872 per troy ons, pada perdagangan sesi Amerika Serikat terakhir hari Kamis kemarin, karena permintaan terhadap dolar AS mengalami sedikit penurunan.

Harga emas pada minggu ini telah jatuh dan berpindah ke rentang harga perdagangan yang lebih rendah diantara $1,800 – $1,900 per ons, sebelumnya pada minggu lalu rentang pergerakan harga emas masih diantara $1900 – $2,000.

Meskipun harga emas telah turun sampai $200, tidak berarti tren “bullish” dari emas telah berakhir. Jika kita melihat melampaui volatilitas jangka pendek maka gambaran makro dari emas masih “bullish”. Sepanjang the Fed tetap mepertahankan tingkat suku bunga di nol persen sampai 2023 dan bank-bank sentral di Eropa tetap menyuntikkan lebih banyak lagi likuiditas ke dalam pasar keuangan dan apalagi apabila pilpres di Amerika Serikat berjalan dengan normal, maka harga emas masih akan naik.

Ketidak pastian sekitar pemilihan presiden AS, naiknya kembali kasus coronavirus secara global dan melambatnya pemulihan ekonomi global menggerakkan para investor untuk memburu uang tunai menjelang pemilihan presiden AS yang memicu banyak volatilitas di pasar.  Investor umumnya menjadi bertambah nervous dengan semakin dekatnya waktu pilpres dan potensi yang besar dari gelombang kedua coronavirus yang menyebabkan pasar saham tertekan. Hal ini membuat investor lari mencari uang tunai.

Minggu ini debat pertama di dalam pilpres AS akan menjadi sorotan selain masalah naiknya kasus coronavirus di Eropa dan stimulus fiskal AS. Debat pertama hanya sebanyak 15 menit yang akan mengcover beberapa topik seperti ekonomi, coronavirus, kerusuhan dan Mahkamah Agung. Menurut media liberal yang pro Demokrat, Biden memimpin dalam polling pendapat dengan angka 7%, sementara menurut Rasmussen polling untuk Trump lompat ke 52% setuju dan 46% tidak setuju dengan Trump, yang berarti peningkatan sebanyak 6%. Polling dari Trump terus menanjak dari hari ke sehari, sementara polling dari Biden stagnan.

Naiknya kasus virus corona juga akan menguji sikap dari investor pada minggu ini dengan adanya ketakutan akan terjadinya lockdown baru. Kekuatiran akan gelombang kedua dari virus corona semakin menguasai pasar dengan semakin meningkatnya kasus infeksi terutama di Eropa dengan Jerman melaporkan 2.321 infeksi baru, angka yang tertinggi selama 5 bulan. Tema utama di pasar  saat-saat ini adalah keengganan terhadap resiko ditengah rekor penularan coronavirus yang baru di Eropa. Benua Eropa sedang dalam gelombang kedua dari virus corona dengan restriksi baru diumumkan di Perancis, Spanyol dan Inggris. Pandemi ini terus memukul kemajuan dari ekonomi dengan melemahnya angka-angka makro ekonomi yang menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi akan memakan waktu lebih lama daripada yang semula diperkirakan.

Berita terakhir mengatakan bahwa Kongres AS sedang bekerja untuk suatu bantuan stimulus fiskal dalam rangka membantu memulihkan dampak akibat virus corona, senilai $2.2 triliun yang akan diambil pemungutan suara minggu ini.

Dari data makro ekonomi minggu ini pasar akan mendapatkan angka final dari GDP AS kuartal kedua dan PMI Markits. Selain itu AS juga akan mempublikasikan ISM PMI resmi yang pada bulan September diperkirakan berada pada 56, masih sama dengan angka final bulan Agustus.

Data yang ditunggu pasar adalah Nonfarm Payrolls bulan September yang akan keluar pada hari Jumat. Diperkirakan akan bertambah 875.000 pekerjaan baru yang dianggap sebagai jumlah yang kecil. Sementara tingkat pengangguran diperkirakan hanya turun 0.1% dari 8.4% menjadi 8.3%.  Average hourly earnings diperkirakan naik sebanyak 0.4% MoM.

Saat ini emas telah berada pada teritori “oversold” di $1.861. Jika harga emas tidak berhasil bertahan di “support” kunci di $1,840/50 per ons, harga emas masih akan bisa jatuh lebih dalam ke bawah $1,800 sebelum tren turun berakhir.

Emas telah mengalami aksi jual yang berhasil menembus “support” kunci di $1,950 per ons dan turun mengetes “support” di sekitar $1,840/50 per ons. Jika harga emas masih bisa turun menembus level ini, maka harga emas masih bisa turun sampai sekitar $1,760 per ons, kerendahan yang terjadi pada bulan Juli.

Kelihatannya ada “support” yang kuat di $1,850, namun jika rintangan di level ini berhasil ditembus, maka akan turun ke level “support” yang berikutnya di $1,820 dan kemudian level psikologis di $1,800, sebelum mencapai $1,760. Sebaliknya kenaikan harga emas akan berhadapan dengan “resistance” terdekat di $1,875 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,887 dan kemudian level psikologis $1,900.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

Sumber: vibiznews.com

Rekomendasi