in

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama Rabu (11/6/20) ditutup terkapar di zona merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama Rabu (11/6/20) ditutup terkapar di zona merah. Tercatat IHSG anjlok 2,43% ke level 4.912,74, karena aksi profit taking para investor setelah reli panjang selama dua pekan kemarin.

Investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih sebanyak Rp 624 miliar di pasar reguler hari ini.

Saham yang paling banyak dijual asing hari ini adalah PT Telekomunkasi Indonesia Tbk (TLKM) yang dijual asing sebanyak Rp 220 miliar.Nilai transaksi pagi ini tercatat mencapai Rp 6,8 triliun.

Mayoritas bursa Asia hari ini terpantau bervariatif, Hang Seng Index di Bursa Hong Kong naik sebesar 0,10%, Nikkei di Jepang terdepresiasi tipis sebesar 0,08%, sedangkan STI Singapore terbang juga turun tipis 0,10%.

Dari Bursa saham kiblat dunia, Amerika Serikat (AS) anjlok pada perdagangan Selasa (9/6/2020), setelah investor keluar dari pasar untuk merealisasikan keuntungan (profit taking).

Indeks Dow Jones turun 1,09% dan S&P 500 melemah 0,78%. Namun Nasdaq Composite masih bisa membukukan kenaikan 0,29%.

Indeks kontrak berjangka Dow Futures sendiri tercatat sudah terapresiasi 0,51%.

“Menurut saya penjualan besar-besaran hari ini adalah hasil dari reli panjang selama sepekan kemarin, tidak ada berita besar yang menunjukkan akan turunnya kembali pasar. Akan tetapi begitu juga sebaliknya, selain data pengangguran yang dirilis pekan kemarin, tidak ada juga berita besar yang akan mendorong pasar,” Ujar Mike Zigmont, kepala tim riset Harvest Volatility Management.Saham yang semula menguat akibat sentimen pelonggaran karantina wilayah (lockdown) kini berguguran, seperti misalnya saham di sektor penerbangan, perhotelan, finansial, industri, dan energi. Indeks maskapai penerbangan di S%P 1500 sendiri tumbang 7,5%.

“Poin data baru-baru ini seperti angka lapangan kerja dan update perusahaan yang tak-seburuk-yang -dikhawatirkan memicu pandangan bahwa penurunan yang terburuk telah di belakang kita,” tulis RBC Capital Markets dalam laporan riset, dikutip CNBC International.

Departemen Tenaga Kerja AS Jumat pekan lalu mengumumkan tambahan 2,5 juta lapangan kerja pada Mei, atau jauh lebih baik dari polling Dow Jones yang sebelumnya memprediksi sebanyak 8 juta tenaga kerja hilang.

Halaman 1 | 2

Rekomendasi